Duka Muhammadiyah atas Gugurnya Prajurit TNI di Lebanon, Haedar Soroti Krisis Kemanusiaan Global
LINTASMAKASSAR.COM, JAKARTA - Pimpinan Pusat Muhammadiyah menyampaikan duka cita yang mendalam atas gugurnya prajurit TNI dalam menjalankan tugas mulia sebagai pasukan penjaga perdamaian dunia di bawah naungan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB).
Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Haedar Nashir mengutuk keras segala tindak kekerasan yang terjadi.
Duka semakin terasa bagi Muhammadiyah. Sebab, salah satu prajurit TNI yang gugur itu, yakni Praka Farizal Romadhon, adalah seorang kader Muhammadiyah asal Kulon Progo, DIY.
Haedar menyampaikan bahwa almarhum dikenal memiliki kedekatan dengan nilai-nilai Muhammadiyah. Bahkan, Praka Farizal melalui akun media sosial pribadinya diketahui aktif memopulerkan Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) pada masa Ramadhan 1447 H lalu.
“Dalam beberapa postingan Instagram-nya bahkan mempopulerkan KHGT. Ini pertanda bahwa yang bersangkutan selain bertugas sebagai pasukan perdamaian, juga lekat dengan spirit Muhammadiyah,” ungkap Haedar dalam Silaturahmi Idulfitri Pimpinan Pusat Muhammadiyah pada Selasa (31/3) di Universitas Muhammadiyah Jakarta (UMJ).
Meski masih belum terlihat titik terang perdamaian dari perang dan konflik yang masih berkecamuk, namun Haedar berharap akan ada jalan terang dan segera terwujud perdamaian dunia.
Masih Terjadi Perang dan Konflik: Wujud Kebuntuan Peradaban Modern
Perang dan konflik yang terjadi di dunia akhir-akhir ini menurutnya sebagai bentuk buntunya peradaban modern. Sebab setelah peristiwa Holocaust, seharusnya tidak boleh ada lagi peristiwa sejenis yang terjadi di dunia ini.
“Tetapi kenyataan terjadi, dan terus berulang terjadi, yang seakan-akan dunia modern yang diwakili oleh negara-negara maju semestinya bisa menghentikan segala perbuatan ini,” kata Haedar.
Bahkan Haedar menyebut, cita-cita besar peradaban modern abad 20 dan 21 itu terhenti, sampai nanti bisa terbukti mampu menghentikan segala bentuk kekerasan, genosida, dan neo kolonialisme.
“Apapun argumentasi dan alasan, tapi ini adalah jalan buntu peradaban modern. Para pemikir postmodern boleh membangun narasi-narasi baru yang mendekonstruksi peradaban modernisme awal abad ke 20 sampai akhir abad ke-20. Tapi kenyataan bahwa postmodernisme pun tidak bisa menghentikan segala bentuk kerusakan,” tegasnya lagi.
Selain buntunya peradaban modern, fenomena perang dan konflik yang terjadi akhir-akhir ini menuju pada global catastrophe, yaitu bencana atau prahara besar di mana nyaris tidak ada institusi hukum dunia yang memiliki kekuatan untuk menghentikan.
Realitas ini membuka mata dunia, bahwa dunia sekarang semakin bergeser ke arah yang lebih bebas, serba buas dan membiarkan kekhawatiran manusia menjadi serigala bagi manusia yang lain (homo homini lupus).
(**)



