BREAKING NEWS

Fenomena Jarang Mandi dan Kesehatan Mental: Pengamat Ingatkan Jangan Langsung Menghakimi

LINTASMAKSSAR.COM, MAKASSAR — Kebiasaan jarang mandi kerap dianggap sekadar persoalan malas atau kurang menjaga kebersihan. Namun, sejumlah pengamat kesehatan mental menilai kondisi tersebut dalam beberapa kasus dapat menjadi salah satu tanda seseorang sedang mengalami gangguan psikologis atau tekanan mental tertentu.

Pengamat kesehatan masyarakat menjelaskan, perubahan perilaku dalam menjaga kebersihan diri sering muncul pada individu yang mengalami stres berat, depresi, gangguan kecemasan, hingga gangguan kejiwaan lainnya. Ketika kondisi mental terganggu, seseorang bisa kehilangan motivasi untuk melakukan aktivitas dasar sehari-hari, termasuk mandi, makan, maupun merawat diri.

Meski demikian, para ahli mengingatkan masyarakat agar tidak gegabah memberi cap “penyakit jiwa” kepada orang yang jarang mandi. Sebab, faktor penyebabnya bisa sangat beragam, mulai dari kondisi ekonomi, lingkungan, kelelahan kerja, depresi, gangguan kesehatan fisik, hingga pola hidup yang buruk.

“Perubahan kebiasaan menjaga kebersihan memang bisa menjadi sinyal adanya masalah kesehatan mental, tetapi tidak bisa langsung dijadikan dasar untuk menyimpulkan seseorang mengalami gangguan jiwa,” ujar seorang pengamat kesehatan mental.

Fenomena ini dinilai perlu dipahami secara objektif dan manusiawi. Alih-alih menghina atau mengucilkan, masyarakat diminta lebih peka terhadap perubahan perilaku orang di sekitar mereka. Dukungan keluarga dan lingkungan sosial disebut sangat penting untuk membantu seseorang yang mulai menunjukkan gejala penurunan kesehatan mental.

Di sisi lain, tenaga medis menegaskan pentingnya edukasi publik agar isu kesehatan jiwa tidak lagi dipandang sebagai bahan ejekan. Stigma negatif justru dapat membuat penderita enggan mencari bantuan profesional dan memperburuk kondisi psikologis mereka.

Kesadaran menjaga kebersihan diri tetap menjadi bagian penting dari kesehatan. Namun, ketika seseorang mengalami perubahan perilaku ekstrem, pendekatan yang lebih bijak dan berbasis empati dinilai jauh lebih penting dibanding sekadar menghakimi.
KABAR NASIONAL
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Credit