BREAKING NEWS

Peluru Nyasar Senapan Burung Mematikan Mimpi Seorang Pelajar SMP di Makassar

LINTASMAKASSAR.COM, MAKASSAR — Duka mendalam menyelimuti keluarga Rehan Putra Pratama (14), seorang anak yang meninggal dunia setelah menjalani perawatan intensif selama 56 hari di Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Dr. Wahidin Sudirohusodo, Makassar. 

Rehan mengembuskan napas terakhirnya tidak lama setelah dinyatakan keluar dari rumah sakit, akibat luka serius yang dideritanya karena insiden peluru nyasar.
Rehan Putra Pratama, lahir pada 7 Desember 2011, menjadi korban dalam peristiwa bentrokan antar kelompok Sapiria dan Borta. 

Dalam kejadian tersebut, sebuah peluru nyasar mengenai bagian kepala Rehan, menyebabkan luka berat yang mengharuskannya mendapatkan penanganan medis intensif dalam jangka waktu panjang.
Peristiwa tragis itu bermula ketika Rehan hendak menuju rumah teman sekolanya untuk mengambil tugas sekolah. 

Ia berniat mengikuti ujian semester, namun tanpa disadari melewati lokasi bentrokan antar kelompok. Tidak lama berselang, Rehan tertembak dan terjatuh di lokasi kejadian.

Korban sempat dilarikan ke Rumah Sakit Daya untuk mendapatkan pertolongan pertama. Namun karena keterbatasan fasilitas dan peralatan medis, Rehan kemudian dirujuk ke RSUP Dr. Wahidin Sudirohusodo Makassar untuk penanganan lanjutan.

Selama 56 hari menjalani perawatan di RSUP Wahidin, Rehan sempat menjalani tindakan operasi. Total biaya perawatan yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp70 juta. Di tengah masa perawatan tersebut, Owner Lin Lin juga diketahui sempat menjenguk Rehan di rumah sakit sebagai bentuk kepedulian.

Semasa hidupnya, Rehan dikenal sebagai sosok anak yang baik, santun, dan berprestasi. Ia pernah mengenyam pendidikan di SD Negeri Cambayya 1 dan melanjutkan pendidikannya di SMP Negeri 37 Makassar. Saat peristiwa terjadi, Rehan tercatat sebagai siswa kelas VIII A.

Kepergian Rehan meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, kerabat, serta lingkungan sekolah. Dengan penuh haru, kedua orang tua almarhum memohon kepada seluruh masyarakat agar berkenan mendoakan putra tercinta mereka.

“Kami hanya memohon doa dari semua pihak agar anak kami diberikan ketenangan di alam kubur dan dilapangkan kuburannya,” ungkap orang tua Rehan dengan suara lirih.

Tragedi ini kembali menjadi pengingat keras akan dampak serius konflik dan kekerasan di tengah masyarakat. Selain mengganggu rasa aman, bentrokan tersebut juga merenggut masa depan generasi muda yang sama sekali tidak terlibat dan tidak bersalah.


"Selamat jalan Ananda Rehan Putfa Pratama"
Berita Terbaru
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
  • Skeleton Image
Posting Komentar