Melintasi Danau di Tengah Malam, Ibu Hamil Asal Routa Selamat Berkat Gotong Royong dan Tetangga Baik Luwu Timur
LINTASMAKASSAR.COM, LUWU TIMUR – Perjuangan bertaruh nyawa kembali harus dilalui oleh warga Kecamatan Routa, Kabupaten Konawe, Sulawesi Tenggara, demi mendapatkan akses pelayanan kesehatan dasar. Ny. Hapsah (39), seorang ibu hamil asal Routa, harus menempuh perjalanan darat dan membelah perairan Danau Towuti selama berjam-jam di tengah malam untuk bisa melahirkan dengan selamat di Rumah Sakit Primaya PT. Vale Sorowako, Kabupaten Luwu Timur, Sulawesi Selatan.
Peristiwa ini bermula ketika Ny. Hapsah dirujuk dari Puskesmas Routa pada pukul 18.30 WITA. Ia harus menempuh jalur darat, kemudian dilanjutkan dengan menyeberangi Danau Towuti menggunakan speedboat selama kurang lebih 1 jam. Setelah mendarat, ia kembali menempuh jalur darat selama 20 menit sebelum akhirnya tiba di RS Primaya PT. Vale Sorowako pada pukul 21.00 WITA. setelah melalui observasi ketat oleh tim medis, tindakan operasi sesar berhasil dilakukan pada pukul 03.00 WITA dini hari. Ibu dan bayi dilaporkan dalam kondisi sehat walafiat.
Perwakilan keluarga pasien, Anadalo Polihe, menyampaikan rasa syukur sekaligus terima kasih yang mendalam kepada seluruh pihak di Luwu Timur yang telah sigap membantu.
"Kami atas nama keluarga mengucapkan terima kasih yang tak terhingga atas pelayanan luar biasa dari tim dokter dan medis PT. Vale. Terima kasih juga kepada rekan-rekan DPRD Luwu Timur, Bapak Alamsyah, ST (Partai Demokrat), Bapak Erik Ekstrada (PDI-P), serta Bapak Awaluddin dari LSM Persatuan Pekebun dalam Kawasan Hutan," ujar Anadalo Polihe.
Secara khusus, Anadalo juga menyampaikan apresiasi tinggi kepada Pemerintah Daerah Luwu Timur. "Terima kasih kepada Abangda DR. H. Irwan Bachri Syam (Bupati Luwu Timur) yang telah menjadi tetangga baik bagi kami warga Kecamatan Routa. Dukungan Pemda Luwu Timur dalam aspek kesehatan sangat dirasakan oleh masyarakat kami," tambahnya.
Kritik Keras Terhadap Pemda Konawe
Meski berujung bahagia, Anadalo Polihe menegaskan bahwa peristiwa bertaruh nyawa seperti ini sudah sering terjadi. Bahkan, tidak sedikit pasien asal Kecamatan Routa yang akhirnya meninggal dunia di tengah jalan sebelum sempat mendapatkan pertolongan medis di rumah sakit rujukan. Hal ini memicu kritik tajam mengingat Routa merupakan salah satu daerah penghasil tambang terbesar di Sulawesi Tenggara, namun ironisnya tidak memiliki fasilitas kedokteran yang memadai.
Kekecewaan masyarakat semakin memuncak mengingat dalam forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) di awal tahun 2026 yang dihadiri Pemda Konawe dan anggota DPRD dari Partai Nasdem, usulan masyarakat agar disediakan tenaga dokter justru ditanggapi dingin. Perwakilan Pemda Konawe menyatakan bahwa pengadaan tenaga dokter untuk Kecamatan Routa baru akan diusulkan pada tahun 2027.
"Ini persoalan kemanusiaan, kenapa harus ditunda-tunda? Mengatakan dokter baru ada tahun 2027 sama saja dengan meminta masyarakat untuk tidak boleh sakit sebelum tahun 2027. Apakah Pemda Konawe masih punya nurani kemanusiaan atau sudah terkubur oleh kepentingan bisnis belaka?" kritik Anadalo.
Kendati demikian, pihak keluarga dan masyarakat Routa mengaku masih menaruh secercah harapan besar kepada kepemimpinan Bupati Konawe saat ini, Yusran Akbar.
"Kami berharap Bapak Bupati Yusran Akbar membuka mata hatinya untuk mengutamakan aspek kesehatan di Kecamatan Routa. Hadirkanlah fasilitas kesehatan yang efektif dan berguna. Pak Bupati, kami tahu Bapak sangat sibuk, dan kami tahu Bapak tidak akan tega melihat rakyatmu menderita di tengah kemegahan daerah tambang ini—seperti tikus yang mati di dalam lumbung padi. Sehat selalu Pak Bupati, sehat selalu orang baik. Semoga Allah SWT membuka mata hati para pemimpin di Konawe," tutup Anadalo Polihe.
